Puisi

:A tribute for AJXB
Enam tahun sudah lewat,
matahari masih pagi,
dekat sekali dengan harapan yang nekat,
kenyataan kala itu lekas menjelma kopi pekat tanpa nikmat.
Matahari padam, pandangan kelam
seperti seketika aliran listrik terputus
sebelum lelap oleh dongeng yang Kau cerita sebagai nazam
tentang kepulangan yang pasti sebab waktu hidup adalah kata kerja ‘diutus’
Lalu hilang suara hilang rupa hilang figur
Tangis tak pernah menghibur kehilangan
Tawa apalagi, tak kuat mengubur kepahitan
Kecuali “iman dan amin”, kata pastor
Dan aku yang mencari
Berlari ke kapela
Bersungut sujud di ruang doa
Hingga menemui pupus
Kukatakan dengan ketus
‘hidup adalah sandiwara’
tetap kenangan tetap menulis
sejarah kehidupan kita bersama adalah harga yang tak pernah biasa ditebus.
Kecuali merawatnya sebagai tanda cinta.
(TandaMataKali, 31 Agustus 2022)
Tinggalkan komentar