
“Papa, sa rindu!”
…
Diam sejenak tanpa kata
Dengar buah hati punya suara
Dengan nada yang mudah dipahami
:Kerinduan. Ia menangis.
Ia sedang menangis dari seberang sana
Tapi buru-buru aku bujuk dengan suara serak tertahan
“Nanti Papa pulang bawa oleh-oleh buat Kaka”
Sembari gerimis jatuh di pelupuk mataku
Padahal siang sedang terik meski sunyi di sini
Puji Tuhan!
Pada detik ke 59, setelah jam bergerak dari 11:59:00 sampe 11:59:59, sebelum sedetik Lonceng Anjelus bergema dari menara Kapela Ledalero,
anakku berhenti menangis.
Ia memang tidak paham arti kata oleh-oleh sama dengan tanda mata
Tapi ia tahu mengeja oleh-oleh sebagai
“Papa nanti bawa kue, pemen, sepatu balu, tas, lispik, anting, banya-banya e!”
“Iya, nanti Papa bawa!”
Suaraku semakin serak dan
Menjadi sebuah kerumitan hingga kalbu terasa diiris sembilu
Merontah-rontah hendak melipat jarak
dikepung serdadu rindu sejumlah butiran gerimis yang mencekik
Tapi aku tahu upaya berpura-pura melipur anakku dengan janji oleh-oleh
dan nyanyian “aku merindu, kuyakin kau tau…”
Hingga anakku turut bernyanyi, “aku melindu, engkau jaoh di mata, tapi dekat di doa” adalah cara terbaik membuat anakku tak menangis.
Dan, akhirnya serdadu rindu yang mengepungi sisiku
Satu per satu pergi bersama gerimis yang telah datang tak diundang.
Aku tersenyum puas meski anakku sementara tak melihat senyumku ini.
(TandaMataKali, 26 Juli 2022)
Tinggalkan komentar