
Mataku ibarat sungai
mengeruak keruh ketika
Aku beradu tatapan dengan keluhan.
Matamu ibarat sentimen mencabik keluh
ketika aku beradu rasa dengan siapa kehidupan.
Seperti keruh
Sungai hidupku mengalir
Hingga tak ada mentari yang leibh cerah pagi ini, sayang,
menyeduh kopi merasakan sejuk embun
tiada faedah.
“Pergulatan demi pergulatan mengusik
Sanggupkah aku jadikan mereka penghibur juangku kini?”
…
Lihat!
Seorang wanita tua bahkan lebih tabah bertarung melawan waktu sepanjang aspal jalanan semasa hidup
demi sesuap nasi bagi hidup cucu yatim-nya.
Masihkah aku sanggup berkeruh dalam keluhan?
(Sewowoto, 12 Desember 2021)
Tinggalkan komentar