
Setelah menulis namamu sebagai dunia masa depanku pada buku harian ini,
Aku mulai merajut mimpi seperti seorang pengembara hendak bersua lanskap alam dalam jelajah melawan arus waktu.
sementara di dalam ruang rasa, cara berharap ini memang demikian pelik. Aku hanya wanita biasa yang selalu membakar pelita doa dan menyimpannya di bawah kaki dian kepasrahan.
Setiap pagi, sejak berbulan lalu aku datang menjejaki kotamu
setelah perkenalan kita dan janji ketemu lewat katamu, aku selalu
menepi di halte tanpa menghentikan laju arus mudik kendaraan kecuali menunggumu datang sembari menjaga api pelita doa dalam batinku tetap bernyala.
Sesekali aku melongoh, mencari-cari rupamu di antara suara kucing-kucing yang menggoda, tapi belum juga ketemukan dirimu. Menatap fotomu dan namamu di gawai ini membikin penasaran dan kepasrahan selalu bertarung di relung jiwaku.
Hingga akhirnya sesaat kau datang dan menemuiku suatu pagi
Di halte kotamu, tempat aku menunggumu berbulan-bulan,
aku hanya diberi pemahaman bahwa “aku mau kita ketemu” dalam katamu
adalah alasan dari pertemuan sekejap yang seharusnya tak pernah kuamini.
Hingga, sayang seribu malang, api doaku hanya kuat menyembunyikan dukaku di bawah kaki dian kepasrahan
Dan mimpiku berlalu tak kuasa melawan arus waktu. Sebab awal pertemuan kita adalah awal perpisahan pula. Awal perpisahan kita adalah akhir dari pertemuan kita.
Di halte kotamu, nazarku ingin membunuh kenangan bersamamu. Sebab sia-sia berjanji, untuk sesaat bertemu dan selamanya berlalu.
Di halte kotamu, aku wanita biasa hanya bisa menguatkan diri untuk mencintai diri sendiri: hitam kulitku, kariting rambutku, aku bangga jadi wanita biasa yang tak sepadan dengan kriteriamu.
Tanpa kubenci apapun dan siapapun, aku ingin menjadi diriku sendiri.
(TandaMataKali, 26 Mei 2022)
Tinggalkan komentar