
(1997-2010)
Pemain biola,
Rio de Janeiro Brasil.
Ingin kumainkan biolaku
Melipur diriku dengan dawai
yang kupinjam dari pekat rambutmu
yang terurai, kekagumanku.
Pekat rambutmu adalah mahkota
tak sepekat rumah jiwaku, Ina.
Rumah jiwa yang kini
tiada api pengharapan
kecuali gigil kecemasan.
Dan amat sunyi jalanku menuju pulang
Mendengar nyanyi elegi burung-burung senja di pantai
merdu sekali walau sesekali lesap diterpa gemuruh ombak jadi harmoni konspirasi alam.
Kuingin tetap memainkan biolaku
Mengiringi melodi elegi itu. Dan ketika kumulai alunkan gesekan dawaiku, dalam pejam mata ini, yang kuhirup adalah aroma rambut pekatmu.
Burung-burung berhenti berkicau, gemuruh ombak pun seketika tenang, seakan mereka turut merasakan kesedihanku ini. “Itu Kiss the Rain milik Yiruma” seru burung-burung, tapi gemuruh ombak yang tenang seolah berkata, “bagaimana lelaki biola itu dapat mencumbu hujan, sedangkan awan dan langit belum mengirimkan kembali setengah dari nyawaku?”
Apakah ini bentuk penghiburan yang menyedihkan
Bagi diriku yang pupus dan pedih diterpa kenyataan susah yang sulit diterka
hanya dengan menyisahkan rasa kagum
pada pekat rambut panjangmu, Ina?
Sembari kuberharap masa penghiburan ini tetap berlangsung selama kau masih menjadi alasan, aku mampu memiliki rasa kagum.
Apabila kau mendengar melodiku
sebagai langgam kaum-kaum yang bersedih
Kau harus dan mau tak mau acuhkan itu
Sebab meski harapanku sedang pupus
Mahkotamu telah menjadi dawai
bagi biolaku mengalunkan melodi kesedihan
untuk menghibur diriku sendiri.
(Sewowoto, 23 Maret 2022)
Puisi Mario D. E. Kali
Tinggalkan komentar