: Suara Hati Ipong

Tungku dan api di dapur padam
air mata masih seperti hujan bulan september
yang derasnya amat merahasiakan suka duka esok hari
hingga esok tiba, tersibak tirai misteri yang tak pernah kuduga
di sini aku harus merasakan sepi terhempas dalam gua luka yang kelam
Bagaimana cara aku melukis wajah ibu?
setelah potret wajahnya selalu kenangan yang
segera menurunkan hujan
melenyapkan segala daya mencari cahaya terang
pun di bola mata ayah redup yang lama tak lagi bernyala
Bagaimana cara aku menerjemahkan bahasa ibu?
setelah nafasnya tak berembus tanpa rupa
hanya sekejap menggema seperti tamu memanggil namaku di depan pintu
tapi yang kutemukan hanya jejak-jejak kenangan: aroma tubuh dan air susu seseorang yang telah melahirkanku secantik wajahnya.
Aku bertanya dan jawabannya kutemukan sebagai luka
merentangkan tangan
seperti ibu dan ayah pulang kepada anaknya yang sedang merindu
saat benar-benar peluk aku merasa duri hanya duri menusuk sukma. Sebab pelukan itu hanya khayalanku.
Aku bertanya sambil berlari ke laut
Membujuk deru ombak meremukkan karang maut
berlari ke gunung meminta jernih sungainya
membasuh keruh jiwaku yang lara
Hingga kutemukan jawaban lain selain luka
Ketika kulihat sekawanan gembala dengan salib dan pelita bernyala di tangan sedang setia menggiring pulang domba-domba yang tersesat
sebagaimana aku mereka panggil pulang ke palung yang membuatku amat dekat merasakan aroma nafas ibu dan ayah dan mampu memeluk lekat tubuh mereka tanpa kepalsuan tanpa keraguan
Seorang gembala tua berbisik
“Nak, doa adalah cara menemukan jawaban pasti atas pertanyaan dan pernyataan bagi orang yang membenci kehilangan. Melaluinya kau akan mencintai luka sebagai sukacita yang mendewasakanmu!”
Dan saat ini aku hanya bisa benar-benar memeluk dalam doa.
(Sewowoto, 29 Maret 2022)
Puisi Mario D. E. Kali
Tinggalkan komentar