
Kau selalu terlambat ke tempat kerja. Bangun lebih awal pada setiap pagi, kau masih terbiasa menuntaskan pekerjaan lazim yang dulu selalu kau buat. Mencari dedaunan atau rumput untuk kambing piaraan. Atau mencuci piring sebagai pelengkap kerja istri. Kau begitu tak damai dalam batin ketika kau memilih mengabaikan hal itu dan cepat pergi ke tempat kerja. Tapi kau pun merasa gejolak dalam batin ketika kau terlambat hadir di tempat kerja. Bertemu rekan-rekan yang telah dahulu sigap memulai aktivitas demi kemajuan bangsa setiap hari sesuai jadwal. Mereka tersenyum, mereka juga menegurmu dengan halus agar bisa jadi yang tidak lagi terlambat esok hari. Ketika esok kembali dan kau masih melakukan yang sama, kau begitu merasa terbeban. Ceritamu menjadi begitu datar dengan gejolak batin yang tak datar.
Lalu kau lalai mengerjakan tugas. Salah membuat sesuatu yang dipercayakan. Dan kau bagai disambar api, di pagi hari. Kau menerimanya sebagai kobaran cinta yang amat peduli. Kau berjanji untuk menjadi lebih baik, tanpa kelalaian-kelalaian yang sudah-sudah. Cerita menjadi begitu menantang. Di saat kau melakukan banyak hal dan menerima begitu banyak kesempatan untuk berproses. Kau kadang hilang dalam arah dan kemanakah kau harus memulai hari dan mengakhiri dengan mulia?
…
(Sewowoto, 5 Oktober 2020)
Tinggalkan komentar