Tanda Mata Kali

hidup: menggugat!


Puisi Untuk Ibu

A tribute for Sesilia

Ibu, kau adalah kata
Kerja yang tak pernah lelah
Kasih yang tak bercelah
Tulus yang tak terkira

Dan inginku tulis namamu di hati
Sepanjang jalanku mencari
Kaulah, alasan mengapa ku berani

Ibu, kaulah yang penuh kasih tanpa pamrih
Oleh air susumu, air mataku dibasuh
Darah yang kaukorbankan
Pada masa-masa kelahiranku
Hingga aku tumbuh dewasa

Ibu air matau itu telah menjadi
mata air surga
Mengalir tiada henti
Bagi dahaga langkahku

Pada telapak kakimu yang mulai keriput
Aku menaruh harapan dan doa
Surgaku rindu, dikaulah yang terberkati

hingga suatu ketika
Kembali ke rahimnya yang abadi.

Ibu, kau tetap adalah kata
yang mengudara dalam hembusan nafasku
Yang meresap dalam aliran nadiku
Yang kurapal dalam doa-doaku

Cintamu yang tak pernah bisa dibalik atau dikurangi
tanpa kompromi dan perhitungan untung rugi
Tulus terberi bagi anak-anak berjalan dalam bestari

Meski kadang anak-anakmu begitu nakal
Sebab mungkin malu atau mala yang tak bisa dielakkan
Ibu tetap berdoa sepanjang masa
Tak satu kali pun melupakan nama anak-anakmu

Ibu, kau adalah kata
Pelita yang bernyala sampai segalanya gelap
Ketika pulang tak tahu arah
Cahaya rindu ibu menuntun langkahku dalam kebenaran

Anak-anak tak akan terjebak
mengenal jalan pulang
Ketika ibu adalah palung paling rindu dipeluk

Oh, ibu
Tanah tumpah darah
hidup kami
ada di dalam dirimu.

Hingga suatu ketika
Kembali ke keabadian
Kuingin ibu bacakan sajak syukurku
Di pangkuan surga.

(Sewowoto, 12 Juli 2021)



Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai