
Sepenggal Obituari
Untuk Opa Petrus Wo’u
“Kematian lazimnya menyisakan dukacita. Meski demikian, dalam sadar dan iman sebagai insan ciptaan Sang Pencipta, dukacita oleh kematian memberi peluang bagi jemari kita untuk menulis kisah selama hidup bersama orang yang telah mengalami kematian badan sebagai kenangan. Menulis dalam hal ini berarti mengamini amanat Yesus Kristus sebelum madah anamnesis berkumandang ketika Ekaristi: Lakukanlah ini (menulis) untuk mengenangkan Daku!”
Tulisan ini adalah sepenggal obituari untuk Opa Piwo. Sebagai kenangan akan Opa Piwo. Nama lengkapnya seturut permandian Katolik adalah Petrus Wo’u. Kami lazim menyapanya Opa Piwo (Salah satu kebiasaan Orang Ngada memanggil nama seseorang adalah dengan cara mengakronimkan nama depan dan nama belakang seseorang sesuai nama permainan).
Opa Piwo adalah Paman Karlin. Setelah saya menikah dengan Karlin, Opa Piwo menjadi salah satu mertua saya. Selama hampir empat tahun berada di Sewowoto, kampung istri saya, saya cukup mengenal Opa Piwo sebagai orang tua yang cukup berpengaruh di kampung. Seperti kebanyakan orang tua di Kampung, Opa Piwo adalah salah satu orang yang suka minum moke/arak. Arak bagi Opa Piwo bukan hanya sekadar “air kata-kata”, tetapi juga adalah “air nyanyian”. Nyanyian yang biasa didengungkan oleh Opa Piwo ketika sudah menenggak satu dua kali arak dari sloki adalah lagu Anak TK Pintar; bunyinya demikian:
“Anak TK Pintar duduk bae-bae, jenge (bahasa Ngada: dengar) ibu ajar, jangan main-main. Tos papa, tos mama, tos-tos-tos!”
Lirik lagu dengan penciptanya masih Anonim inilah yang sering didengungkan berulang oleh Opa Piwo ketika sudah mabuk arak.
Di samping itu, Opa Piwo dalam keadaan setengah sadar oleh pengaruh arak sering menasihati siapa saja yang dipikirnya perlu ia nasihati.
Pernah dua sampai tiga kali ketika kami duduk bersama untuk “Nalo” (Bahasa Ngada: untuk menyebut kebiasaan duduk makan dan minum [arak] bersama), Opa Piwo menasihati saya begini:
“Jadi ana tu’a (anak mantu) jangan main-main, Oke? Jangan bikin kaco-kaco. Kalau ada masalah lari ke kebun, Oke?”
Pada setiap akhir nasihatnya, Opa Piwo selalu mengimbuh kata “Oke” dengan intonasi tanda tanya. Sebagai orang yang mendengarkan dan mengamini nasihat beliau, kami selalu menjawabi :Oke!.
Betapa normal dan sangat manusiawi, ketika kita mendengar nasihat dari seseorang yang mabuk arak, kita akan tertawa dan merasa nasihatnya begitu lucu. Namun, ketika kembali pada duduk sendiri dan merenung, ternyata nasihatnya itu sangat berarti. Seperti nasihat seorang Bapa bagi anaknya agar tak tersesat dalam bersikap dan bertindak di dalam kehidupan.
Saya menulis ini sebagai kenangan akan Opa Piwo. Opa Piwo telah pergi. Pergi ke haribaan Sang Pencipta pada 10 Februari 2023, tepat pukul 16.30 WITA di Sa’o Mude Menge (Rumah Kediaman Opa Piwo bersama istri dan anak-cucunya). Sesaat ketika Opa Piwo dikabarkan mengembuskan nafasnya yang terakhir, cuaca yang sedang cerah tetiba berubah mendung dan seketika hujan. Langit dan semesta turut membahasakan kesedihan orang-orang sekampungnya di Sewowoto.
Kami berdukacita atas kepergian Opa Piwo.
Tapi kami percaya bahwa dalam nama Yesus Kristus yang Bangkit, Opa Piwo dapat beristirahat dalam cinta dan damai di surga abadi.
Masih banyak kisah yang ingin saya tulis tentang Opa Piwo, tapi saya lebih memilih menyimpannya sebagai kenangan yang amat baik sebagai anak mantu untuk terus hidup dan melangkah bagi kehidupan.
Terima kasih untuk nasihatmu, kritikmu dan semua hal yang Dikau sampaikan secara langsung dan terbuka, meski dalam keadaan pengaruh arak. Saya dan kami mengenang kisah bersamamu sebagai sebuah juru bagi langkah hidup kami yang masih berziarah di muka bumi.
Selamat jalan, Opa Piwo. Rest in Love dan Peace, Piwo!
(Sewowoto, 10 Februari 2023)
Ana tu’a, Mario D. E. Kali.
Tinggalkan komentar