Tanda Mata Kali

hidup: menggugat!


Sang Juru Khitan Telah Pergi

Obituari buat Ama Troy

Kabar kematian datang silih berganti. Awal tahun yang penuh duka. Setelah dengar seorang pergi, beberapa hari kemudian dengar lagi kabar kepergian seseorang. Ini sungguh ujian bagi iman agar selalu menjadi teguh meski dihantam setiap peristiwa yang melukakan hati.
Air mata jatuh, ratap tangis beradu sirena ambulance, kabar duka sampai di telinga, Ama Troy sudah pergi jauh.
Api iman dalam dada berkobar, sulut bibir ucap tobat ditutup amin amat dalam, setelah pasrah: “Terjadilah pada kami menurut kehendak-Mu!” berbisik syaduh. Sang juru khitan telah pergi jauh dan tak akan kembali lagi.

Kami memanggilnya Ama Troy. Nama yang keren mirip nama pemain sinetron di televisi. Ama Troy memiliki nama lengkap Petrus Fahik Berek.
Semasa hidupnya, Ama Troy terkenal sebagai juru khitan tradisional. (Sebagai lelaki Timor yang sudah mencapai akil balig, kami mesti disunat). Tangan dingin Ama Troy berhasil membantu khitanan sebagian jejaka di kampung saya. Kami tidak perlu buang banyak biaya mahal-mahal ke dokter, cukup beli sebungkus linting dan setengah kilogram kopi gula, dalam sekejap khitanan selesai di tangan Ama Troy. Khitatan tradisional itu dijamin aman dan bersih.

Selain sebagai juru khitan, keseharian Ama Troy semasa hidupnya diisi dengan menggembalakan sapi. Ama Troy memiliki belasan ekor sapi. Ia kadang harus menjual sapi-sapi itu untuk biaya sekolah anak-anaknya. Pada situasi tertentu, ketika ada wabah penyakit sapi Ama Troy nyaris ludes dimakan wabah, namun beliau tetap mencari cara untuk menyembuhkan sapi-sapinya.

Saya bertemu beliau untuk yang terakhir kalinya pada awal Januari 2021 lalu, ketika saya pulang ke Kimbana untuk satu dua urusan keluarga. Saat itu beliau sedang ‘tofa’ rumput di kebun. Kami saling berbagi rokok dan memamah sirih pinang dari ‘kakaluk beliau’. Kami tak banyak bercerita, kecuali bertanya kabar. Dan beliau mengatakan bahwa ia sakit. Saya menyuruh untuk tidak perlu ‘tofa’ rumput. Beliau bilang, itu akan bikin sakitnya makin kambuh. Sebelum saya pamit, beliau menitip pesan, “Bapak mate nela emi ti’an. Emi otas ti’an, dadi hala’o moris dadiak. Hau ne katuas ti’an, moris no mate iha Maromak niakan liman, o mak sei nurak mais la dadi Na’i Lulik, surak daka o fen no oan dadiak.”
(Bapak sudah meninggal. Kalian sudah dewasa, jadi jalani hidup secara baik dan benar. Saya ini sudah tua, hidup dan mati saya serah di tangan Tuhan, kau yang masih muda walau tidak jadi Pastor, tapi tetap jaga istri dan anakmu baik-baik!”
Itu pesan terakhir beliau. Dan saya mengamini pesan itu.

Minggu, 19 Februari 2023, setelah pulang ibadah, saya mendapat kabar bahwa Ama Troy telah mengembuskan nafasnya yang terakhir. Dengan nama Petrus, Beliau telah bertaruh di dalam pelik kehidupan ini. Beliau telah menjadi sekokoh cadas untuk mampu bertahan hingga mencapai usia bonus kehidupan menurut Mazmur Daud. Beliau mengembuskan nafas kehidupan yang terakhir tepat pada usia 82 tahun.
Selamat jalan Ama Troy, selamat jalan sang juru khitan. Beristirahatlah dalam damai Tuhan!

Sewowoto, 22 Februari 2023.
Oan Mane, Mario D. E. Kali.



Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai