Tanda Mata Kali

hidup: menggugat!


Mario d. e. kali

  • Maria Janji

    Maria janjidalam hati Jaga hati/ sampai mati (Sewowoto, 1 Maret 2023) Continue reading

  • Saya Ingin Menjadi Ayah Saya

    Jika Anda bisa menjadi orang lain dalam sehari, mau jadi siapa, dan mengapa? Agus. Jos. Kali Bere, itulah nama lengkap ayah saya. Menurut ceritanya dan data di KTP, beliau lahir pada 25 Desember di sebuah kampung bernama Kimbana, desa Bakus Tulama, kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Beliau adalah ayah juga guru bagi Continue reading

  • Pondok Baca Sewo Woto

    “Kalian punya tempat wisata bahari, Pantai Ena Bhara dengan kekhasan pasir putihnya yang menawan. Bagaimana kalian bisa mengekspos kekayaan alam ini ke seluruh dunia, jika kalian tak pernah membaca buku?”Benediktus Lagho , ketua FTBM Kab Ngada. Sentilan Ketua FTBM Kab. Ngada tersebut terucap pada Minggu 22 Agustus 2021 dalam sebuah sesi kunjungan ke wilayah pantai Continue reading

  • Sang Juru Khitan Telah Pergi

    Obituari buat Ama Troy Kabar kematian datang silih berganti. Awal tahun yang penuh duka. Setelah dengar seorang pergi, beberapa hari kemudian dengar lagi kabar kepergian seseorang. Ini sungguh ujian bagi iman agar selalu menjadi teguh meski dihantam setiap peristiwa yang melukakan hati.Air mata jatuh, ratap tangis beradu sirena ambulance, kabar duka sampai di telinga, Ama Continue reading

  • Kepada Kau Yang Memikul Janji

    Puisi Tanda Mata Kali Keadaan bak secangkir kopi pahitSatu katamu menjelma gulaMemaniskan rasaKau tahu setelahnyabahkan tak ada apapun yang lebih ringan daripada upayamu memikul satu kata gula itu Waktu terus berjalan pergi, tak pernah memunggungimu, sering menatapmutapi ia tak dapat kau, panggil genggam tubuhnya dan kau paksa memulangkan keadaan sedetik yang lalu. Kepada kau yang Continue reading

  • Hari Minggu di Mageria

    Pohon asam besarBerdiri tegak para pertapaMencari Sang Maha Sunyi di dalam nazarSambil bernyanyi Veni Creator Gema lonceng berdentangsuara angin berdesisDisambut gemeruh ombak, persisOrkestra alam berdendang Seperti melodi lagu GolgotaMengiringi wajah Yesus di SalibTersenyum tanpa bicaraSebagaimana setiap diri tahu cara beradu nasib O, Minggu yang amat syaduh, tegakkanlah aku setinggi pohon asam besar itu! (TandaMataKali, 16 Continue reading

  • Di Pantai Ini

    Ombak hantam batu karangbawa pesan tentang karamkisah masa lalu yang malang: “Anak-anak baku rampas tanah ulayat;Anak-anak lupa tanah itu wasiat!Tempat darinya datang dan kepadanya pulang menuai selamat bagi hayat di kandung badan. Anak-anak ambisi jadi pejabat;Anak-anak lupa jabatan itu amanat!Waktu darinya terjadi dan kepadanya menjadialamat bagi yang sesat berjalan dalam arah yang tepat” Sudahlah! kuburkanlah Continue reading

  • Doa Senja

    Melihat langit amat dekatMenggurat syair-syair sunyiDi relung jiwa ini ada nama yang melekatSebagai alasan untuk kembali “Tuhan, beri kami lembahyungtempat segala doa membawa damaitanpa prasangka menampi air mata pada dulangsebab padaMulah kami mereguk sejuk mata air!” Sewowoto, 12 Februari 2023 Continue reading

  • Beristirahatlah dalam Cinta dan Damai, Opa Piwo!

    “Kematian lazimnya menyisakan dukacita. Meski demikian, dalam sadar dan iman sebagai insan ciptaan Sang Pencipta, dukacita oleh kematian memberi peluang bagi jemari kita untuk menulis kisah selama hidup bersama orang yang telah mengalami kematian badan sebagai kenangan. Menulis dalam hal ini berarti mengamini amanat Yesus Kristus sebelum madah anamnesis berkumandang ketika Ekaristi: Lakukanlah ini (menulis) Continue reading

  • Puisiku Menembus Katamu

    Di sini, angin berembusDingin sepisau menembusGigil tubuh terlalu kurusMenghirup, mengendus Aroma di antara buih dan bayangMencari menerka maknaSuara hati senyap seribu pikir mengawangMenemukan bangkai dalam jala Lalu ia mengertiKesedihan kadangkala terciptadari ucapan dan tindakan tak sepadanLalu dimanakah ia menemukan senyum Senyum setajam pisauyang tak pernah merasa menangsetelah mengiris jemariyang diam-diam ingin menulis puisi. (TandaMataKali, 6 Continue reading

  • Narasi Hitam Putih

    Ada dua pilihan:hantu atau Tuhan (?)Cukup pilih satu! Dengan rupa-rupa caraMenerka beribu ceritaJadi satu kesimpulan Hitam tak berarti dosaPutih tak selalu suciSebab kini banyak manipulasi (Tandamatakali, 24 Januari 2023) Continue reading

  • Terima kasih, Rinjani!

    Puisi yang lahir atas namamuTak pernah membuatku jalan ini buntuMeski berkelok dan berlikuLangkah pasti mencapai ladang mimpi itu Terima kasih, Rinjani!Karena namamu adalah hatiKarena hatimu adalah kasihKarena kasihmu adalah puisi Menulis nama sucimuMelihat dunia yang galauMendengar lagu yang senduMerasakan hidup sungguh utuh (Tandamatakali, 24 Januari 2023) Continue reading

  • Di sini, Rinjani!

    Duduk di sini, Rinjani!Nikmati segalas kopiselepas tidur yang lelahsembari membaca larik puisi ini Satu kata yang paling malangadalah menyerah kalah sebelum penghujungAku tahu kau paling mengertibagaimana menjadi pejuang sejati Menyelami labirin kehidupanmenuju kemuliaan hakikimelewati satu demi satu lorong kegelapanhingga menemukan cahaya cinta abadi. Duduk di sini, Ranjani!Kau tahu, betapa nikmat kopi iniketika puisi tentangmu menjadi Continue reading

  • Cahaya Cinta Tak Pernah Padam

    Sampai detik iniAku percayaCinta mengekalkan segalanyaDan cahaya selalu menerangi Di kala risau meredupkan harapIa hadir menghalau risauDi kala sepi merisaukan rinduIa hadir melipur kalbu Dan di dalam segala detikkuNadiku berdetakCahaya cinta tak pernah padamMenerangiku meniadakan kelam Aku percaya ituHingga puisikuAkan selalu menulis tentangnyaSegala waktu. (Tandamatakali, 11 Desember 2022) Continue reading

  • Seperti Kursi Kosong

    “Warna langit itu persis bola matakuSetelah kupelototi ulang-ulang isi pesan singkat semalam”Katamu membuka cerita.Sedang yang mendengar cerita hanya ingin mendengar Maka diam cukup panjangSetelah tarik nafas dan embus berkali-kaliKau bilang“Status hidupmu kini kadang membuatmu merasa tak lebih berarti di mata seseorang. Ketika orang itu bilang padamu bahwa ia kecewa pada sikap cuek seseorang yang pernah Continue reading

  • Perputaran Rasa

    Selalu bergerak mengitari waktuAda detak dalam dada tak menentuSeekor kucing mencabik-cabik dindingAda ringis saat ini yang gemanya tiada banding Meski ia bersembunyi di dalam sepiLabirin hati yang paling sulit diselamiIa sedang bernyanyi senandungSungai gejolak tidak baik-baik saja dibendung Hingga gelap. Menjadi begitu kelam.Seekor kucing menyalakan mata lebamMencari setitik cahaya di atap langitSembari berharap ia temukan Continue reading

  • Puisi Untuk Ibu

    Ibu, kau adalah kataKerja yang tak pernah lelahKasih yang tak bercelahTulus yang tak terkira Dan inginku tulis namamu di hatiSepanjang jalanku mencariKaulah, alasan mengapa ku berani Ibu, kaulah yang penuh kasih tanpa pamrihOleh air susumu, air mataku dibasuhDarah yang kaukorbankanPada masa-masa kelahirankuHingga aku tumbuh dewasa Ibu air matau itu telah menjadimata air surgaMengalir tiada hentiBagi Continue reading

  • Juri Juga MANUSIA

    Cerpen *Mario D. E. Kali             Dua jam setelah mendapat pesan singkat dari bos, Tipan telah selesai memosting poster kriteria perlombaan cerita anak dwi bahasa  dengan tagline gratis, berhadiah jutaan rupiah dan terbuka bagi semua lapisan masyarakat salah satu provinsi tanah air di laman beberapa akun media sosial. Tipan menarik nafas legah. Ia lekas mengecek Continue reading

  • Konflik (Batin) adalah Sahabat

    Kau selalu terlambat ke tempat kerja. Bangun lebih awal pada setiap pagi, kau masih terbiasa menuntaskan pekerjaan lazim yang dulu selalu kau buat. Mencari dedaunan atau rumput untuk kambing piaraan. Atau mencuci piring sebagai pelengkap kerja istri. Kau begitu tak damai dalam batin ketika kau memilih mengabaikan hal itu dan cepat pergi ke tempat kerja. Continue reading

  • SabdaMu, Puisi HidupKu

    Pada mulanya adalah kataDikau ucapkan di hadapan kerling mataku yang lusuhMenandaskan segala sesuatu sebagai kebaikanTapi adaku terkadang kerdil dalam iman Hingga sabdaMu itu merasuki jiwaku“Hukum hidup adalah Kasih!”Kugoreskan puisiku dalam inspirasi SabdaMuKuhayati puisiku dalam langkah hidupku Tuhan,SabdaMu, PuisikuPuisiku, HidupkuHidupku, KehendakMu Aku kepadaMuJalan panjang menuju keabadianYang kaubentangkanAgar tiada tersesat jiwaku Aku kepadaMuHarapan kecil menuju MahaMuYang kaudendangkanAgar Continue reading

  • Tanpa Batas Usia

    Puisi Mario D. E. Kali Tuhan, isi doaku masih samasederhana sajaseperti kicau burung gerejayang mengiringi anamnesis misa pagi Kupanjatkan syukurTanpa pinta lebihIzinkan aku menghirup nafas cintaMuDan biarlah pengabulan atas lafas doakuTerjadi menurut KehendakMu Aku ingin terus bersyukurTanpa batas usiakuTerima kasih, Tuhan! (Ruang Doa, 7 Juli 2022) Lilin bernyala: dibakar untuk temani kelammu Pedang wasiat: sarungkan Continue reading

  • Cinta Untuk Karolina

    Puisi Mario D. E. Kali Bertumbuhlah tunas zaitunDi belantara pohon putihMeninggi perlahan setiap hariJadilah naungan, jadilah penuntun! Itu asas upaya kita saling mencintatanpa batasan. Hingga dua pasang tangan mungilMenjangkau bintang kecilMenyelip pesan doa kepada Yang Mahasuci ‘Tuhan, asal tunas pohon zaitun kami,berilah ibu kami umur yang panjang hari ini,dan cinta kami dan ayah kepadanya sepanjang Continue reading

  • Perihal Kehadiran Kita

    Kehadiran kita adalah seperti mawar/semestinya hanya bunga indah yang mekar/ tanpa duri tajam yang mencakar// Kahadiran kita adalah karena persinggahan/semestinya memberi suka setelah menerima begitu banyak duka// Kehadiran kita adalah memang rumah/pelukan bagi yang merasa gerah dalam amarah/sekalipun itu tercipta bersama hujan air mata// Toh, kehadiran kita ini pada akhirnya/ hanya akan menyisahkan tangis, bukan?// Continue reading

  • Memeluk Dalam Doa

    : Suara Hati Ipong Tungku dan api di dapur padamair mata masih seperti hujan bulan septemberyang derasnya amat merahasiakan suka duka esok harihingga esok tiba, tersibak tirai misteri yang tak pernah kudugadi sini aku harus merasakan sepi terhempas dalam gua luka yang kelam Bagaimana cara aku melukis wajah ibu?setelah potret wajahnya selalu kenangan yangsegera menurunkan Continue reading

  • Lelaki Biola Yang Melipur Kesedihannya dengan Melodi Elegi

    Ingin kumainkan biolakuMelipur diriku dengan dawaiyang kupinjam dari pekat rambutmuyang terurai, kekagumanku. Pekat rambutmu adalah mahkotatak sepekat rumah jiwaku, Ina.Rumah jiwa yang kinitiada api pengharapankecuali gigil kecemasan. Dan amat sunyi jalanku menuju pulangMendengar nyanyi elegi burung-burung senja di pantaimerdu sekali walau sesekali lesap diterpa gemuruh ombak jadi harmoni konspirasi alam. Kuingin tetap memainkan biolakuMengiringi melodi Continue reading

  • Di Halte Kotamu

    Setelah menulis namamu sebagai dunia masa depanku pada buku harian ini,Aku mulai merajut mimpi seperti seorang pengembara hendak bersua lanskap alam dalam jelajah melawan arus waktu.sementara di dalam ruang rasa, cara berharap ini memang demikian pelik. Aku hanya wanita biasa yang selalu membakar pelita doa dan menyimpannya di bawah kaki dian kepasrahan. Setiap pagi, sejak Continue reading

  • Nyanyian Mangun

    Puisi *Mario D. E. Kali Di tepi kali Code yang heningPada ranting kayu keringSempat kudengar kicau merdu burung manyarSuara anak pengamen bernyanyi lagu anyarSambil mengusap air kemiskinan dari matanyaDi hadapan anak pejabat yang asyik tunduk menyembah gawai Kicau manyar suara anak pengamenBerpadu bersahut bernyanyi lagu pesinden“Mangun, oh Mangun, tingkap keegoisan tersingkap, jalan damai terbentang sampai Continue reading

  • Seperti Keruh, Kuberkeluh

    Mataku ibarat sungaimengeruak keruh ketikaAku beradu tatapan dengan keluhan.Matamu ibarat sentimen mencabik keluhketika aku beradu rasa dengan siapa kehidupan. Seperti keruhSungai hidupku mengalirHingga tak ada mentari yang leibh cerah pagi ini, sayang,menyeduh kopi merasakan sejuk embuntiada faedah.“Pergulatan demi pergulatan mengusikSanggupkah aku jadikan mereka penghibur juangku kini?”… Lihat!Seorang wanita tua bahkan lebih tabah bertarung melawan waktu Continue reading

  • Memelukmu Sepertiga Detik

    Puisi Ina, Memelukmu Sepertiga Detik Aku semakin jatuh cintaSejak puisikumenemukan judulnya sendiri,Namamu. Ina,Bagiku lebih manja sapaan iniSejak semesta membelaimuTerbang langit ketujuhMendarat ke tujuh puluh kali tujuh turunan Ina,Aku masih duduk di siniTak muluk-mulukKataku menjelma puisiUntuk segera kau peluk Aku masih duduk di siniAku kau pelukSegera kataku menjelma puisi Meski segalanya masih harapmenunggumuKapan di sini berlaluKapan Continue reading

  • Mimpiku

    Aku ingin menjadi temaliYang mampu mengikat jalin persahabatanSampai abadi Tapi mimpiku terlampau putusTatkala penghayatanku akan waktuSelalu menyedihkan. Masih pantaskah aku bermimpi? (TandaMataKali, 13 September 2022) Continue reading

  • Anakku Menangis 59 Detik

    “Papa, sa rindu!”…Diam sejenak tanpa kataDengar buah hati punya suaraDengan nada yang mudah dipahami:Kerinduan. Ia menangis. Ia sedang menangis dari seberang sanaTapi buru-buru aku bujuk dengan suara serak tertahan“Nanti Papa pulang bawa oleh-oleh buat Kaka”Sembari gerimis jatuh di pelupuk matakuPadahal siang sedang terik meski sunyi di sini Puji Tuhan! Pada detik ke 59, setelah jam Continue reading

  • Jalan Pilihan

    Puisi Apakah ingin pergi atau tinggal tetap?Sedang jalan telah terbentang membagiKita yang belum benar terlelapMemilih kata kerja jalan di antara itu atau ini Altar suci dan Ekaristi KudusPacul dan sebidang kebun ubi kayuMotor atau pick-up pencatut kopra hingga kardusPohon lontar dan pengiris pucuk laru Lalu gema perpisahan mesti terdengarbersama tangisan lelaki kekardi antara tawa pura-pura Continue reading

  • Kecupan Tiga Detik

    Puisi Adakah yang lebih mekardaripada kuncup mawardi ujung bibirmu? Ia bersemi melipur laraSeperti kau bernyanyi lagu asmarabergema hingga ujung usia Adakah yang lebih tegardaripada aroma mawardi ujung nafasmu? Ia berembus memberi arahSeperti kau bersajak kata cintaberarti sampai ujung waktu Sementara kita menepi di ruang semediMenafsir puisi kata demi katahingga cahaya berseridan kecupan bibir tiga detik Continue reading

  • Menuju KediamanMu

    Puisi Berjalan ke kediamanMu.Aku tak ingin canduseperti seorang pemadat tembakau atau sopi kepala.Itu hanya akan membuatku lemahdan terpenjara di dalam ruang manja kenistaan. :Tuhan Kasihanilah,Kristus Kasihanilah!Gumamku.Lonceng AngelusPukul 6 pagi Sementara di ujung jalanKumelihat seorang KakekBerjalan tegar memikul keranjang harapanSepuluh ikat sawi.Seketika sukmamuseperti diiris. Menuju ke kediamanMu pagi iniKuketuk pintu hatiku sendiriRuang rasa yang menyimpan rahasiatentangMu Continue reading

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai