puisi
-
Maria Janji
Maria janjidalam hati Jaga hati/ sampai mati (Sewowoto, 1 Maret 2023) Continue reading
-
Kepada Kau Yang Memikul Janji
Puisi Tanda Mata Kali Keadaan bak secangkir kopi pahitSatu katamu menjelma gulaMemaniskan rasaKau tahu setelahnyabahkan tak ada apapun yang lebih ringan daripada upayamu memikul satu kata gula itu Waktu terus berjalan pergi, tak pernah memunggungimu, sering menatapmutapi ia tak dapat kau, panggil genggam tubuhnya dan kau paksa memulangkan keadaan sedetik yang lalu. Kepada kau yang Continue reading
-
Hari Minggu di Mageria
Pohon asam besarBerdiri tegak para pertapaMencari Sang Maha Sunyi di dalam nazarSambil bernyanyi Veni Creator Gema lonceng berdentangsuara angin berdesisDisambut gemeruh ombak, persisOrkestra alam berdendang Seperti melodi lagu GolgotaMengiringi wajah Yesus di SalibTersenyum tanpa bicaraSebagaimana setiap diri tahu cara beradu nasib O, Minggu yang amat syaduh, tegakkanlah aku setinggi pohon asam besar itu! (TandaMataKali, 16 Continue reading
-
Di Pantai Ini
Ombak hantam batu karangbawa pesan tentang karamkisah masa lalu yang malang: “Anak-anak baku rampas tanah ulayat;Anak-anak lupa tanah itu wasiat!Tempat darinya datang dan kepadanya pulang menuai selamat bagi hayat di kandung badan. Anak-anak ambisi jadi pejabat;Anak-anak lupa jabatan itu amanat!Waktu darinya terjadi dan kepadanya menjadialamat bagi yang sesat berjalan dalam arah yang tepat” Sudahlah! kuburkanlah Continue reading
-
Doa Senja
Melihat langit amat dekatMenggurat syair-syair sunyiDi relung jiwa ini ada nama yang melekatSebagai alasan untuk kembali “Tuhan, beri kami lembahyungtempat segala doa membawa damaitanpa prasangka menampi air mata pada dulangsebab padaMulah kami mereguk sejuk mata air!” Sewowoto, 12 Februari 2023 Continue reading
-
Puisiku Menembus Katamu
Di sini, angin berembusDingin sepisau menembusGigil tubuh terlalu kurusMenghirup, mengendus Aroma di antara buih dan bayangMencari menerka maknaSuara hati senyap seribu pikir mengawangMenemukan bangkai dalam jala Lalu ia mengertiKesedihan kadangkala terciptadari ucapan dan tindakan tak sepadanLalu dimanakah ia menemukan senyum Senyum setajam pisauyang tak pernah merasa menangsetelah mengiris jemariyang diam-diam ingin menulis puisi. (TandaMataKali, 6 Continue reading
-
Narasi Hitam Putih
Ada dua pilihan:hantu atau Tuhan (?)Cukup pilih satu! Dengan rupa-rupa caraMenerka beribu ceritaJadi satu kesimpulan Hitam tak berarti dosaPutih tak selalu suciSebab kini banyak manipulasi (Tandamatakali, 24 Januari 2023) Continue reading
-
Terima kasih, Rinjani!
Puisi yang lahir atas namamuTak pernah membuatku jalan ini buntuMeski berkelok dan berlikuLangkah pasti mencapai ladang mimpi itu Terima kasih, Rinjani!Karena namamu adalah hatiKarena hatimu adalah kasihKarena kasihmu adalah puisi Menulis nama sucimuMelihat dunia yang galauMendengar lagu yang senduMerasakan hidup sungguh utuh (Tandamatakali, 24 Januari 2023) Continue reading
-
Di sini, Rinjani!
Duduk di sini, Rinjani!Nikmati segalas kopiselepas tidur yang lelahsembari membaca larik puisi ini Satu kata yang paling malangadalah menyerah kalah sebelum penghujungAku tahu kau paling mengertibagaimana menjadi pejuang sejati Menyelami labirin kehidupanmenuju kemuliaan hakikimelewati satu demi satu lorong kegelapanhingga menemukan cahaya cinta abadi. Duduk di sini, Ranjani!Kau tahu, betapa nikmat kopi iniketika puisi tentangmu menjadi Continue reading
-
Cahaya Cinta Tak Pernah Padam
Sampai detik iniAku percayaCinta mengekalkan segalanyaDan cahaya selalu menerangi Di kala risau meredupkan harapIa hadir menghalau risauDi kala sepi merisaukan rinduIa hadir melipur kalbu Dan di dalam segala detikkuNadiku berdetakCahaya cinta tak pernah padamMenerangiku meniadakan kelam Aku percaya ituHingga puisikuAkan selalu menulis tentangnyaSegala waktu. (Tandamatakali, 11 Desember 2022) Continue reading
-
Seperti Kursi Kosong
“Warna langit itu persis bola matakuSetelah kupelototi ulang-ulang isi pesan singkat semalam”Katamu membuka cerita.Sedang yang mendengar cerita hanya ingin mendengar Maka diam cukup panjangSetelah tarik nafas dan embus berkali-kaliKau bilang“Status hidupmu kini kadang membuatmu merasa tak lebih berarti di mata seseorang. Ketika orang itu bilang padamu bahwa ia kecewa pada sikap cuek seseorang yang pernah Continue reading
-
Perputaran Rasa
Selalu bergerak mengitari waktuAda detak dalam dada tak menentuSeekor kucing mencabik-cabik dindingAda ringis saat ini yang gemanya tiada banding Meski ia bersembunyi di dalam sepiLabirin hati yang paling sulit diselamiIa sedang bernyanyi senandungSungai gejolak tidak baik-baik saja dibendung Hingga gelap. Menjadi begitu kelam.Seekor kucing menyalakan mata lebamMencari setitik cahaya di atap langitSembari berharap ia temukan Continue reading
-
Puisi Untuk Ibu
Ibu, kau adalah kataKerja yang tak pernah lelahKasih yang tak bercelahTulus yang tak terkira Dan inginku tulis namamu di hatiSepanjang jalanku mencariKaulah, alasan mengapa ku berani Ibu, kaulah yang penuh kasih tanpa pamrihOleh air susumu, air mataku dibasuhDarah yang kaukorbankanPada masa-masa kelahirankuHingga aku tumbuh dewasa Ibu air matau itu telah menjadimata air surgaMengalir tiada hentiBagi Continue reading
-
SabdaMu, Puisi HidupKu
Pada mulanya adalah kataDikau ucapkan di hadapan kerling mataku yang lusuhMenandaskan segala sesuatu sebagai kebaikanTapi adaku terkadang kerdil dalam iman Hingga sabdaMu itu merasuki jiwaku“Hukum hidup adalah Kasih!”Kugoreskan puisiku dalam inspirasi SabdaMuKuhayati puisiku dalam langkah hidupku Tuhan,SabdaMu, PuisikuPuisiku, HidupkuHidupku, KehendakMu Aku kepadaMuJalan panjang menuju keabadianYang kaubentangkanAgar tiada tersesat jiwaku Aku kepadaMuHarapan kecil menuju MahaMuYang kaudendangkanAgar Continue reading
-
Tanpa Batas Usia
Puisi Mario D. E. Kali Tuhan, isi doaku masih samasederhana sajaseperti kicau burung gerejayang mengiringi anamnesis misa pagi Kupanjatkan syukurTanpa pinta lebihIzinkan aku menghirup nafas cintaMuDan biarlah pengabulan atas lafas doakuTerjadi menurut KehendakMu Aku ingin terus bersyukurTanpa batas usiakuTerima kasih, Tuhan! (Ruang Doa, 7 Juli 2022) Lilin bernyala: dibakar untuk temani kelammu Pedang wasiat: sarungkan Continue reading
-
Cinta Untuk Karolina
Puisi Mario D. E. Kali Bertumbuhlah tunas zaitunDi belantara pohon putihMeninggi perlahan setiap hariJadilah naungan, jadilah penuntun! Itu asas upaya kita saling mencintatanpa batasan. Hingga dua pasang tangan mungilMenjangkau bintang kecilMenyelip pesan doa kepada Yang Mahasuci ‘Tuhan, asal tunas pohon zaitun kami,berilah ibu kami umur yang panjang hari ini,dan cinta kami dan ayah kepadanya sepanjang Continue reading
-
Perihal Kehadiran Kita
Kehadiran kita adalah seperti mawar/semestinya hanya bunga indah yang mekar/ tanpa duri tajam yang mencakar// Kahadiran kita adalah karena persinggahan/semestinya memberi suka setelah menerima begitu banyak duka// Kehadiran kita adalah memang rumah/pelukan bagi yang merasa gerah dalam amarah/sekalipun itu tercipta bersama hujan air mata// Toh, kehadiran kita ini pada akhirnya/ hanya akan menyisahkan tangis, bukan?// Continue reading
-
Memeluk Dalam Doa
: Suara Hati Ipong Tungku dan api di dapur padamair mata masih seperti hujan bulan septemberyang derasnya amat merahasiakan suka duka esok harihingga esok tiba, tersibak tirai misteri yang tak pernah kudugadi sini aku harus merasakan sepi terhempas dalam gua luka yang kelam Bagaimana cara aku melukis wajah ibu?setelah potret wajahnya selalu kenangan yangsegera menurunkan Continue reading
-
Lelaki Biola Yang Melipur Kesedihannya dengan Melodi Elegi
Ingin kumainkan biolakuMelipur diriku dengan dawaiyang kupinjam dari pekat rambutmuyang terurai, kekagumanku. Pekat rambutmu adalah mahkotatak sepekat rumah jiwaku, Ina.Rumah jiwa yang kinitiada api pengharapankecuali gigil kecemasan. Dan amat sunyi jalanku menuju pulangMendengar nyanyi elegi burung-burung senja di pantaimerdu sekali walau sesekali lesap diterpa gemuruh ombak jadi harmoni konspirasi alam. Kuingin tetap memainkan biolakuMengiringi melodi Continue reading
-
Di Halte Kotamu
Setelah menulis namamu sebagai dunia masa depanku pada buku harian ini,Aku mulai merajut mimpi seperti seorang pengembara hendak bersua lanskap alam dalam jelajah melawan arus waktu.sementara di dalam ruang rasa, cara berharap ini memang demikian pelik. Aku hanya wanita biasa yang selalu membakar pelita doa dan menyimpannya di bawah kaki dian kepasrahan. Setiap pagi, sejak Continue reading
-
Nyanyian Mangun
Puisi *Mario D. E. Kali Di tepi kali Code yang heningPada ranting kayu keringSempat kudengar kicau merdu burung manyarSuara anak pengamen bernyanyi lagu anyarSambil mengusap air kemiskinan dari matanyaDi hadapan anak pejabat yang asyik tunduk menyembah gawai Kicau manyar suara anak pengamenBerpadu bersahut bernyanyi lagu pesinden“Mangun, oh Mangun, tingkap keegoisan tersingkap, jalan damai terbentang sampai Continue reading
-
Seperti Keruh, Kuberkeluh
Mataku ibarat sungaimengeruak keruh ketikaAku beradu tatapan dengan keluhan.Matamu ibarat sentimen mencabik keluhketika aku beradu rasa dengan siapa kehidupan. Seperti keruhSungai hidupku mengalirHingga tak ada mentari yang leibh cerah pagi ini, sayang,menyeduh kopi merasakan sejuk embuntiada faedah.“Pergulatan demi pergulatan mengusikSanggupkah aku jadikan mereka penghibur juangku kini?”… Lihat!Seorang wanita tua bahkan lebih tabah bertarung melawan waktu Continue reading
-
Memelukmu Sepertiga Detik
Puisi Ina, Memelukmu Sepertiga Detik Aku semakin jatuh cintaSejak puisikumenemukan judulnya sendiri,Namamu. Ina,Bagiku lebih manja sapaan iniSejak semesta membelaimuTerbang langit ketujuhMendarat ke tujuh puluh kali tujuh turunan Ina,Aku masih duduk di siniTak muluk-mulukKataku menjelma puisiUntuk segera kau peluk Aku masih duduk di siniAku kau pelukSegera kataku menjelma puisi Meski segalanya masih harapmenunggumuKapan di sini berlaluKapan Continue reading
-
Mimpiku
Aku ingin menjadi temaliYang mampu mengikat jalin persahabatanSampai abadi Tapi mimpiku terlampau putusTatkala penghayatanku akan waktuSelalu menyedihkan. Masih pantaskah aku bermimpi? (TandaMataKali, 13 September 2022) Continue reading
-
Anakku Menangis 59 Detik
“Papa, sa rindu!”…Diam sejenak tanpa kataDengar buah hati punya suaraDengan nada yang mudah dipahami:Kerinduan. Ia menangis. Ia sedang menangis dari seberang sanaTapi buru-buru aku bujuk dengan suara serak tertahan“Nanti Papa pulang bawa oleh-oleh buat Kaka”Sembari gerimis jatuh di pelupuk matakuPadahal siang sedang terik meski sunyi di sini Puji Tuhan! Pada detik ke 59, setelah jam Continue reading
-
Jalan Pilihan
Puisi Apakah ingin pergi atau tinggal tetap?Sedang jalan telah terbentang membagiKita yang belum benar terlelapMemilih kata kerja jalan di antara itu atau ini Altar suci dan Ekaristi KudusPacul dan sebidang kebun ubi kayuMotor atau pick-up pencatut kopra hingga kardusPohon lontar dan pengiris pucuk laru Lalu gema perpisahan mesti terdengarbersama tangisan lelaki kekardi antara tawa pura-pura Continue reading
-
Kecupan Tiga Detik
Puisi Adakah yang lebih mekardaripada kuncup mawardi ujung bibirmu? Ia bersemi melipur laraSeperti kau bernyanyi lagu asmarabergema hingga ujung usia Adakah yang lebih tegardaripada aroma mawardi ujung nafasmu? Ia berembus memberi arahSeperti kau bersajak kata cintaberarti sampai ujung waktu Sementara kita menepi di ruang semediMenafsir puisi kata demi katahingga cahaya berseridan kecupan bibir tiga detik Continue reading
-
Menuju KediamanMu
Puisi Berjalan ke kediamanMu.Aku tak ingin canduseperti seorang pemadat tembakau atau sopi kepala.Itu hanya akan membuatku lemahdan terpenjara di dalam ruang manja kenistaan. :Tuhan Kasihanilah,Kristus Kasihanilah!Gumamku.Lonceng AngelusPukul 6 pagi Sementara di ujung jalanKumelihat seorang KakekBerjalan tegar memikul keranjang harapanSepuluh ikat sawi.Seketika sukmamuseperti diiris. Menuju ke kediamanMu pagi iniKuketuk pintu hatiku sendiriRuang rasa yang menyimpan rahasiatentangMu Continue reading
-
Merawat Kenangan
Puisi Enam tahun sudah lewat,matahari masih pagi,dekat sekali dengan harapan yang nekat,kenyataan kala itu lekas menjelma kopi pekat tanpa nikmat. Matahari padam, pandangan kelamseperti seketika aliran listrik terputussebelum lelap oleh dongeng yang Kau cerita sebagai nazamtentang kepulangan yang pasti sebab waktu hidup adalah kata kerja ‘diutus’ Lalu hilang suara hilang rupa hilang figurTangis tak pernah Continue reading
-
Sebab Api
Puisi Tak akan bernyalaSejak pemantik kehabisan gasDan tak perlu tanya dengan tawaMengapa bernyala? Hingga ketika deru jadi debuHidup adalah leluconyang ditangisi oleh ketawadan kabar kecewa adalah alasan lain tuk lekas menutup balok dari selubung matadan menggema kabar buruk kepada semestasebab di sini kebaikan hanyalah semuSebab Api yang bernyala (Maumere, 30 Agustus 2022) Continue reading
-
Tak Kuasa Memeluk Waktu
Puisi Kepada sosok yang tak kelihatanTapi selalu berjalan di sisi kitaBerdetak seirama getaran dadaBerjalan searah tiada kembali tiada hentimenciptakan pergantiandari pertemuan kepada perpisahanpun dari perpisahan kepada pertemuan Ialah waktuKuingin memeluknya kali iniTuk sejenak mengajaknyaMeniadakan pergantianTapi apalah daya Ia tak bisa dibujuk dengan rayuan apapunDan kita hanya bisa menerimaDi dalamnya selalu ada pergantian hariTapi hati kita Continue reading