refleksi hidup
-
Sang Juru Khitan Telah Pergi
Obituari buat Ama Troy Kabar kematian datang silih berganti. Awal tahun yang penuh duka. Setelah dengar seorang pergi, beberapa hari kemudian dengar lagi kabar kepergian seseorang. Ini sungguh ujian bagi iman agar selalu menjadi teguh meski dihantam setiap peristiwa yang melukakan hati.Air mata jatuh, ratap tangis beradu sirena ambulance, kabar duka sampai di telinga, Ama Continue reading
-
Beristirahatlah dalam Cinta dan Damai, Opa Piwo!
“Kematian lazimnya menyisakan dukacita. Meski demikian, dalam sadar dan iman sebagai insan ciptaan Sang Pencipta, dukacita oleh kematian memberi peluang bagi jemari kita untuk menulis kisah selama hidup bersama orang yang telah mengalami kematian badan sebagai kenangan. Menulis dalam hal ini berarti mengamini amanat Yesus Kristus sebelum madah anamnesis berkumandang ketika Ekaristi: Lakukanlah ini (menulis) Continue reading
-
ELIEZER
— untuk Richard Eliezer Pudihang Lumie (yang tak membaca tulisan ini) Goenawan Mohamad Berdirilah tegak, Richard. Kau duduk di depan mahkamah, dan keluar dari sidang pengadilan, bukan lagi seorang polisi yang membunuh. Kehadiranmu sebuah metamorfosa. Kau sebuah ambiguitas. Di depan para hakim, kau polisi dan kau juga pelanggar hukum; di ruang pengadilan itu, kau sebuah Continue reading
-
Konflik (Batin) adalah Sahabat
Kau selalu terlambat ke tempat kerja. Bangun lebih awal pada setiap pagi, kau masih terbiasa menuntaskan pekerjaan lazim yang dulu selalu kau buat. Mencari dedaunan atau rumput untuk kambing piaraan. Atau mencuci piring sebagai pelengkap kerja istri. Kau begitu tak damai dalam batin ketika kau memilih mengabaikan hal itu dan cepat pergi ke tempat kerja. Continue reading
-
SabdaMu, Puisi HidupKu
Pada mulanya adalah kataDikau ucapkan di hadapan kerling mataku yang lusuhMenandaskan segala sesuatu sebagai kebaikanTapi adaku terkadang kerdil dalam iman Hingga sabdaMu itu merasuki jiwaku“Hukum hidup adalah Kasih!”Kugoreskan puisiku dalam inspirasi SabdaMuKuhayati puisiku dalam langkah hidupku Tuhan,SabdaMu, PuisikuPuisiku, HidupkuHidupku, KehendakMu Aku kepadaMuJalan panjang menuju keabadianYang kaubentangkanAgar tiada tersesat jiwaku Aku kepadaMuHarapan kecil menuju MahaMuYang kaudendangkanAgar Continue reading
-
Cinta Untuk Karolina
Puisi Mario D. E. Kali Bertumbuhlah tunas zaitunDi belantara pohon putihMeninggi perlahan setiap hariJadilah naungan, jadilah penuntun! Itu asas upaya kita saling mencintatanpa batasan. Hingga dua pasang tangan mungilMenjangkau bintang kecilMenyelip pesan doa kepada Yang Mahasuci ‘Tuhan, asal tunas pohon zaitun kami,berilah ibu kami umur yang panjang hari ini,dan cinta kami dan ayah kepadanya sepanjang Continue reading
-
Perihal Kehadiran Kita
Kehadiran kita adalah seperti mawar/semestinya hanya bunga indah yang mekar/ tanpa duri tajam yang mencakar// Kahadiran kita adalah karena persinggahan/semestinya memberi suka setelah menerima begitu banyak duka// Kehadiran kita adalah memang rumah/pelukan bagi yang merasa gerah dalam amarah/sekalipun itu tercipta bersama hujan air mata// Toh, kehadiran kita ini pada akhirnya/ hanya akan menyisahkan tangis, bukan?// Continue reading
-
Memeluk Dalam Doa
: Suara Hati Ipong Tungku dan api di dapur padamair mata masih seperti hujan bulan septemberyang derasnya amat merahasiakan suka duka esok harihingga esok tiba, tersibak tirai misteri yang tak pernah kudugadi sini aku harus merasakan sepi terhempas dalam gua luka yang kelam Bagaimana cara aku melukis wajah ibu?setelah potret wajahnya selalu kenangan yangsegera menurunkan Continue reading
-
Lelaki Biola Yang Melipur Kesedihannya dengan Melodi Elegi
Ingin kumainkan biolakuMelipur diriku dengan dawaiyang kupinjam dari pekat rambutmuyang terurai, kekagumanku. Pekat rambutmu adalah mahkotatak sepekat rumah jiwaku, Ina.Rumah jiwa yang kinitiada api pengharapankecuali gigil kecemasan. Dan amat sunyi jalanku menuju pulangMendengar nyanyi elegi burung-burung senja di pantaimerdu sekali walau sesekali lesap diterpa gemuruh ombak jadi harmoni konspirasi alam. Kuingin tetap memainkan biolakuMengiringi melodi Continue reading
-
Di Halte Kotamu
Setelah menulis namamu sebagai dunia masa depanku pada buku harian ini,Aku mulai merajut mimpi seperti seorang pengembara hendak bersua lanskap alam dalam jelajah melawan arus waktu.sementara di dalam ruang rasa, cara berharap ini memang demikian pelik. Aku hanya wanita biasa yang selalu membakar pelita doa dan menyimpannya di bawah kaki dian kepasrahan. Setiap pagi, sejak Continue reading
-
Nyanyian Mangun
Puisi *Mario D. E. Kali Di tepi kali Code yang heningPada ranting kayu keringSempat kudengar kicau merdu burung manyarSuara anak pengamen bernyanyi lagu anyarSambil mengusap air kemiskinan dari matanyaDi hadapan anak pejabat yang asyik tunduk menyembah gawai Kicau manyar suara anak pengamenBerpadu bersahut bernyanyi lagu pesinden“Mangun, oh Mangun, tingkap keegoisan tersingkap, jalan damai terbentang sampai Continue reading
-
Memelukmu Sepertiga Detik
Puisi Ina, Memelukmu Sepertiga Detik Aku semakin jatuh cintaSejak puisikumenemukan judulnya sendiri,Namamu. Ina,Bagiku lebih manja sapaan iniSejak semesta membelaimuTerbang langit ketujuhMendarat ke tujuh puluh kali tujuh turunan Ina,Aku masih duduk di siniTak muluk-mulukKataku menjelma puisiUntuk segera kau peluk Aku masih duduk di siniAku kau pelukSegera kataku menjelma puisi Meski segalanya masih harapmenunggumuKapan di sini berlaluKapan Continue reading
-
Mimpiku
Aku ingin menjadi temaliYang mampu mengikat jalin persahabatanSampai abadi Tapi mimpiku terlampau putusTatkala penghayatanku akan waktuSelalu menyedihkan. Masih pantaskah aku bermimpi? (TandaMataKali, 13 September 2022) Continue reading
-
Anakku Menangis 59 Detik
“Papa, sa rindu!”…Diam sejenak tanpa kataDengar buah hati punya suaraDengan nada yang mudah dipahami:Kerinduan. Ia menangis. Ia sedang menangis dari seberang sanaTapi buru-buru aku bujuk dengan suara serak tertahan“Nanti Papa pulang bawa oleh-oleh buat Kaka”Sembari gerimis jatuh di pelupuk matakuPadahal siang sedang terik meski sunyi di sini Puji Tuhan! Pada detik ke 59, setelah jam Continue reading
-
Jalan Pilihan
Puisi Apakah ingin pergi atau tinggal tetap?Sedang jalan telah terbentang membagiKita yang belum benar terlelapMemilih kata kerja jalan di antara itu atau ini Altar suci dan Ekaristi KudusPacul dan sebidang kebun ubi kayuMotor atau pick-up pencatut kopra hingga kardusPohon lontar dan pengiris pucuk laru Lalu gema perpisahan mesti terdengarbersama tangisan lelaki kekardi antara tawa pura-pura Continue reading
-
Kecupan Tiga Detik
Puisi Adakah yang lebih mekardaripada kuncup mawardi ujung bibirmu? Ia bersemi melipur laraSeperti kau bernyanyi lagu asmarabergema hingga ujung usia Adakah yang lebih tegardaripada aroma mawardi ujung nafasmu? Ia berembus memberi arahSeperti kau bersajak kata cintaberarti sampai ujung waktu Sementara kita menepi di ruang semediMenafsir puisi kata demi katahingga cahaya berseridan kecupan bibir tiga detik Continue reading
-
Menuju KediamanMu
Puisi Berjalan ke kediamanMu.Aku tak ingin canduseperti seorang pemadat tembakau atau sopi kepala.Itu hanya akan membuatku lemahdan terpenjara di dalam ruang manja kenistaan. :Tuhan Kasihanilah,Kristus Kasihanilah!Gumamku.Lonceng AngelusPukul 6 pagi Sementara di ujung jalanKumelihat seorang KakekBerjalan tegar memikul keranjang harapanSepuluh ikat sawi.Seketika sukmamuseperti diiris. Menuju ke kediamanMu pagi iniKuketuk pintu hatiku sendiriRuang rasa yang menyimpan rahasiatentangMu Continue reading
-
Merawat Kenangan
Puisi Enam tahun sudah lewat,matahari masih pagi,dekat sekali dengan harapan yang nekat,kenyataan kala itu lekas menjelma kopi pekat tanpa nikmat. Matahari padam, pandangan kelamseperti seketika aliran listrik terputussebelum lelap oleh dongeng yang Kau cerita sebagai nazamtentang kepulangan yang pasti sebab waktu hidup adalah kata kerja ‘diutus’ Lalu hilang suara hilang rupa hilang figurTangis tak pernah Continue reading
-
Sebab Api
Puisi Tak akan bernyalaSejak pemantik kehabisan gasDan tak perlu tanya dengan tawaMengapa bernyala? Hingga ketika deru jadi debuHidup adalah leluconyang ditangisi oleh ketawadan kabar kecewa adalah alasan lain tuk lekas menutup balok dari selubung matadan menggema kabar buruk kepada semestasebab di sini kebaikan hanyalah semuSebab Api yang bernyala (Maumere, 30 Agustus 2022) Continue reading
-
Tak Kuasa Memeluk Waktu
Puisi Kepada sosok yang tak kelihatanTapi selalu berjalan di sisi kitaBerdetak seirama getaran dadaBerjalan searah tiada kembali tiada hentimenciptakan pergantiandari pertemuan kepada perpisahanpun dari perpisahan kepada pertemuan Ialah waktuKuingin memeluknya kali iniTuk sejenak mengajaknyaMeniadakan pergantianTapi apalah daya Ia tak bisa dibujuk dengan rayuan apapunDan kita hanya bisa menerimaDi dalamnya selalu ada pergantian hariTapi hati kita Continue reading
-
Terapi, 1 (Fiksimini)
Terapi, 1 Di ranting pohon kapuk tua itu, dulu, sebelum daunnya dan buahnya gugur dan tak pernah tumbuh lagi lima tahun belakangan ini, Saidus menggantung cita-cita sebagai sniper. Berbekal katapel, Saidus yang putus sekolah dasar setelah menerima komuni pertama itu, melewati malam-malam saat musim semi di bawah pohon kapuk itu.Kini, pohon kapuk tinggal rangka kering, Continue reading