Tanda Mata Kali

hidup: menggugat!


Juri Juga MANUSIA

Cerpen *Mario D. E. Kali

            Dua jam setelah mendapat pesan singkat dari bos, Tipan telah selesai memosting poster kriteria perlombaan cerita anak dwi bahasa  dengan tagline gratis, berhadiah jutaan rupiah dan terbuka bagi semua lapisan masyarakat salah satu provinsi tanah air di laman beberapa akun media sosial. Tipan menarik nafas legah. Ia lekas mengecek kembali postingannya itu untuk memastikan bahwa nama-nama juri tidak dicantumkan di sana. Sementara di telinganya terus terngiang seperti suara bos membaca ulang-ulang pesan singkat yang dikirim tadi.

Dana ada seratus juta, tolong adakan lomba apa saja yang bernuansa literasi. Anggap saja itu sebagai salah satu program kerja kita tahun ini. Saya tidak mau kehilangan muka di hadapan duta baca yang sudah datang mengunjungi lembaga kita dan pak gubernur yang sudah beberapa kali meloloskan proposal kita. Dan ini lembaga nasional bukan abal-abal.

            Dan menurut Tipan, mengadakan lomba cerita anak dwi bahasa adalah ide yang tentu akan dianggap sangat brilliant oleh si bos. Tipan merasa bahwa ia sedang tabrak bonus besar tahun ini. Ia bakal langsung membayar tunai belis calon istrinya. Sebagai salah satu staf khusus yang menangani bagian publikasi dan dokumentasi di lembaga yang berorintasi pada literasi, Tipan memiliki kinerja yang selalu diacungi jempol oleh bos, ia dapat memudahkan setiap perkara dengan mencari jalan pintas. Tapi di hadapan om-om calon istri yang menuntut belis, Tipan tak punya jalan pintas yang berarti. Mau tidak mau, konon demi cinta, ia harus cari akal untuk bisa memeras sebagian dana untuk dirinya  dari kegiatan lomba tersebut.

Itu semua demi mencegah terjadi kecurangan. Takutnya jika nama juri sudah tertera, ada peserta yang diam-diam akan menghubungi juri dan kita berusaha mencegah tindak KKN dalam lomba.

Demikian Tipan membalas pertanyaan “Kenapa nama juri tak tercantum dalam poster?” melalui pesan singkat WhatsApp kepada salah satu nomor kontak anonim.

Ah mungkin calon peserta lomba atau mungkin orang sok literat yang hanya iseng saja.

Gumam Tipan sembari meletakkan kembali gawainya pada ujung meja kerja dan lanjut berkutat dengan laptop untuk penyelesaian laporan kerjanya hari ini.

Tetiba gawainya berdering, ada panggilan masuk dari bos.

Kerja yang bagus. Duta Baca baru saja telepon bilang siap mengucurkan dana  dan sangat berterima kasih untuk kita mulai lomba ini. Lanjutkan!

Panggilan ditutup.Tipan kembali mengusap dadanya. Pujian itu adalah bonus. Ia berdoa dalam hati semoga bos menambahkan selembar dua lembar uang sakunya bulan ini.

***

            Seminggu sebelum tenggat pendaftaraan dan penyerahan naskah lomba cerita anak, Tipan baru mengantongi lima nama peserta dengan masing-masing dua naskah karya yang dikirim dari target semula sesuai instruksi bos bahwa harus mencapai lima puluhan bahkan ratusan peserta lomba yang mendaftar dan mengirim karya. Bos terus mengecek terkait hal itu, Tipan selalu berkelit “Aman bos. Target sudah tercapai”. Ia mulai berpikir keras sambil mengkotak-katik gawainya mencari nama beberapa kolega dan teman masa sekolah di daftar kontaknya.

Tolong buatkan dua cerita anak dalam dua bahasa dan lekas kirim sebelum kamis minggu ini. Jangan lupa sertakan nomor rekening. Ingat jaga rahasia. Saya tunggu ya, Terima kasih.

Pesan itu dikirim kepada masing-masing kepada lima orang teman. Semuanya merespon dengan antuasias. Bahkan tiga orang temannya itu langsung membalas dengan mengirimkan lebih dari dua naskah cerita anak yang entah ditulis sendiri atau dijiplak dari entah.

            Tipan berhasil mengugah hari bosnya. Bulan ini ia mendapat uang saku lebih dua kali lipat dari biasanya. Hasil uang saku itu ia transferkan kepada masing-masing temannya dengan nominal seratus ribu rupiah. Dari lima temannya, ia berhasil mendapatkan lima belas naskah.

Urusan nama pemilik naskah itu hal mudah. Tiga tulis tambah nama Bapakmu. Pakai itu duit untuk beli susu anakmu ya. 

Candanya kepada seorang teman masa putih abu-abu yang menelponnya setelah ia mengirim slip bukti transfer.

Selanjutnya Tipan membuat satu grup WhatsApp Lomba Cerita Anak Dwi Bahasa untuk menampung secara virtual semua peserta lomba. Sejam kemudian setelah grup itu dibuat, beberapa peserta langung mengirim pesan say hello dan salam literasi dengan emoticon seperangkat alat literasi buku terbuka, pena, dll. Membaca itu Tipan tertawa geli sendiri di ruang kerjanya.

Bagaimana dengan juri lomba?

Bos bertanya via telpon. Tipan jawab aman, singkat, padat dan pasti.

            ***

Tiga bulan berlalu. Pukul tujuh pagi, Tipan menyapa semua anggota grup whatsApp lomba cerita anak dengan pesan basa-basi yang dirasainya sendiri sangat memuakkan. Bestie, apa kabar? Deg-degan ya dengan hasil lomba? Sore atau malam ini akan diumumkan para pemenang. Beragam balasan muncul di grup tersebut. Siap, Admin. Terima kasih. Tak sabar menunggu. Salam literasi.

Tepat pukul 18.15 wita, setelah lonceng anjelus bersahut azan maghrib dalam kumandang, Tipan mengirim list lima nama peserta dengan rincian juara 1 sampai 10 dalam bentuk poster, kecuali nama teman-temannya. Setiap peserta itu masing-masing meraih dua kali juara dengan skor yang berbeda. Pesan masuk beruntun di grup WhatsApp dari masing-masing peserta berupa Terima kasih. Puji syukur. Proficiat.  Salam literasi.

Tipan sendiri merasa puas dengan cara kerjanya. Ia tersenyum Ia menelpon bosnya untuk memberi laporan singkat setelah menghubungi masing-masing lima peserta yang telah diumumkan sebagai juara lomba cerita anak itu. Bosnya mengabarkan bahwa dana untuk hadiah peserta sudah ditransfer. Tipan makin puas sebab ia akan dapat jatah berlimpat ganda. Namun, berselang 30 menit kemudian, ada satu pesan di grup dari seorang peserta yang tak ia kenal, bertanya tentang catatan pertanggungjawaban juri atas lomba cerita anak tersebut. Tipan mulai keringat dingin. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam. Sambil tertawa kecut.

Jangan bilang saya Tipan, kalau saya tak punya trik jitu untuk urusan seperti ini. huh!.

Dua menit kemudian, Tipan membalas bahwa catatannya ada dan membual janji akan mengirimnya esok pagi lewat akun media sosial lembaga mereka. Tapi sialan, kampret nih orang! Tipan menggerutu sendiri, sebab peserta yang namanya tak muncul sebagai juara itu terus mengatakan bahwa seharusnya pengumuman juara untuk lomba sekelas ini disertai langsung dengan catatan pertanggungjawaban juri. Tak puas dengan bertanya di grup, peserta tersebut lantas menelpon langsung ke nomor kontak Tipan. Tipan berusaha menahan amarahnya. Menarik nafas dalam-dalam, lalu menjawab telepon itu dengan beribu kata maaf dan menjual kata kesibukan sebagai alasan yang dirasanya logis dan berterima oleh si peserta kampret itu.

            Dua hari berlalu, Tipan tak lagi aktif menyapa anggota grup WhatsApp. Ia hanya memantau, kalau-kalau si peserta kampret  munculkan lagi pesan gugatannya di grup. Tapi tak ada. Tipan merasa legah. Sebelum terlelap dalam tidurnya, Tipan masih sempat mengutuk dalam semoga agar si peserta kampret sudah lupa untuk menagih janji Tipan.   

Esok pagi sampai siang, grup masih sepi. Tipan ingin lekas membubarkan grup itu. Namun, ia tak mau jika kedoknya lekas terbongkar. Maka pas malam saat si peserta yang sama mulai ngotot perihal catatan juri, Tipan langsung menghubungi temannya yang telah ia sogok untuk terlibat sebagai peserta pemenuh quota lomba itu agar merespon pertanyaan si peserta kampret dengan jurus mematikan dan menantang.

He, lu kalau tidak juara, tidak usah banyak protes. Lu kalau juara pasti tidak protes begini. Itu hak juri. Keputusan juri sudah sah. Terima saja. Kalau tidak ada catatan pertanggungjawaban terima saja juri juga manusia. Lu protes tidak akan mengubah apapun. Salam literasi.

Tanpa mengirim pesan balasan, si peserta kampret langsung  keluar dari grup. Hingga pada suatu hari tersebar opini yang menggemparkan jagat maya bahwa lembaga nasional yang dipimpin bosnya Tipan telah mengadakan lomba hanya untuk menghabiskan dana pemerintah. Pemilihan pemenang lomba tanpa catatan pertanggungjawaban juri dan kurator adalah lomba abal-abal yang tidak memberi dampak edukasi bagi masyarakat dan berujung pada penghabisan percuma uang negara.

Demikian topik utama dari opini tersebut. Jagat maya heboh dengan status cibir-mencibir menyasar pada lembaga yang dipimpin bosnya Tipan. Melihat itu, Tipan langsung menonaktifkan semua akun media sosialnya, mengganti foto profil WhatsApp dan memblokir beberapa orang.

Tetiba saja, ada panggilan masuk,   

Halo Tipan. Kamu saya pecat!

Telepon bos dimatikan. Tipan menampar pipinya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Selamat ya, Admin. Sebab, juri juga manusia.

Notifikasi pesan singkat muncul di gawai Tipan dari nomor peserta kampret.

*Mario D. E. Kali, lahir pada akhir Mei di Kinbana, Belu Timor. Alumnus SMA Seminari Lalian. Menulis buku puisi Tanda Mata (Jakarta: Teras Budaya, 2020).



One response to “Juri Juga MANUSIA”

  1. Marselinus Minggus Avatar
    Marselinus Minggus

    Mantap Tanda Mata Kali

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke Marselinus Minggus Batalkan balasan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai